Skip to content

Bertahan Demi Mencukupi Kebutuhan Keluarga

August 12, 2012
Pengrajin Tanggui
 
Bertahan Demi Mencukupi Kebutuhan Keluarga
 
Di tengah barang serba modern dari kulit dan pelastik, kerajinan tanggui, yakni, topi tradisional terbuat dari daun masih bisa bertahan. Di tangan para ibu-ibu daerah Kuin dan Alalak kerajinan warisan budaya  turun-temurun tersebut masih lestari. Ya, mereka melakukanya demi mencukupi kekurangan kebutuhan keluarga.
Gambar
Disebuah rumah sederhana di pinggiran sungai Alalak,  Norasih (63) pengrajin tanggui nampak tekun membuat kerajinan tanggui. Jari-jari nenek itu masih terlihat cekatan merangkai dan menjahit daun nipah membentuk bundar. “Besarnya ukuran yang saya olah ini tiga kilan, ini tanggui yang berukuran sedang,” ucanya kepada Media Kalimantan.
Norasih mengaku sudah sejak kecil bisa membuat kerajinan tanggui tersebut yang dipelajarinya dari orangtua-orangtua dahulu. Dan ini pekerjaan rumah untuk mencukupi kekurangan kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Hampir sepanjang umur saya sudah menjadi pengrajin tanggui ini,” akunya Kepada Media Kalimantan.
Menurutnya, merangkai tanggui perlu ketelitian dan sabar, kalau tidak maka bisa menjadi kurang baik dan tidak bisa dijual.
Menurut pengakuannya, tanggui-tanggui yang dibuatnya baru berbentuk bakal (belum sempurna jadi), sebab belum dilengkapi tukup atas dan salupu tangguinya. “Tukup atas dan salupu (topi di kepala,red) tangguinya ada pengrajinnya lagi yang mengerjakan,” jelasnya.
Diungkapkan Norasih, bahan untuk membuat tanggui dari daun nipah tersebut cukup sulit didapat, sebab sekarang cukup jauh dicarinya, yakni,  di daerah Pulau Kembang Batola. “Daun yang dibuat tanggui itu adalah pucuknya, tidak bisa daun yang sudah tua,” terangnya.
Sebab, katanya, daun nipah yang sudah tua tidak akan mudah dibentuk dan mudah sobek. “Makanya yang diambil pucuknya saja, itupun harus dikeringkan dulu baru bisa diolah,” ucapnya.
Dikatakan pengrajin tanggui lainnya Norhijjati, para pengrajin tanggui di daerahnya di Alalak tersebut kebanyakan para ibu-ibu. “Ini sebagai pekerjaan sampingan kami, sebagai ibu rumahtangga,” ucapnya.
Menurutnya, hasil tanggui yang mereka kerjakan biasanya dibeli para pengumpul untuk dipasarkan lagi kedaerah-daerah Hulu Sungai atau daerah yang banyak lahan pertanian lainnya. “Biasa paling banyak itu saat musim orang panin padi,” ujarnya.
Diakui Hamdiah (40) pengrajin Tanggui dari Kuin Carucuk RT 16, harga pertangguinya berpariasi antara sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu tergantung besarnya. “Biasanya para pengumpul langsung borong tanggui kita,” pungkasnya.(sukarli)
 
1 Lampirkan file| 1,4MB

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: