Skip to content
Tags

,

Main Kesenian Kesana Kemari Demi Keluarga

August 12, 2012
Main Kesenian Kesana Kemari Demi Keluarga
 
Wijaya Kusuma, seniman muda ini memang tidak diragukan lagi namanya dikalangan seniman banua. Anak tokoh seniman banua Alm Utuh Aini (Pendiri Grup Kesenian Eka Cakra Banjarmasin)  ini  masih tetap eksis berkesenian mewarisi keahlian seni ayahnya itu. Dia rela kesana kemari berkesenian demi keluarga.
Gambar
 
Tuntutan hidup membuat pria kelahiran tahun 1979 ini harus memilih jalan itu, bagaimana tidak, pada 2009 silam, semua peralatan keseniannya ludes terbakar saat rumahnya diamuk si jago merah. Musibah ini yang membuat dirinya harus berjuang keras dari awal kembali, dan ini diakunya sebuah cobaan yang cukup berat.
 
Menurut Wijaya, dirinya merasa memiliki tanggungjawab untuk tetap menghidupkan dan melestarikan kesenian yang sudah turun temurun diwariskan keluarganya ini. Dan dia tidak akan putus asa walaupun harus nyewa atau nimbrung main di grup kesenian lain.
 
“Terkadang kita nyewa peralatan teman-teman di grup kesenian lain, untuk main kalau ada diundangan manggung dihajatan,” ujarnya saat ditemui Media Kalimantan di rumahnya di jalan A Yani KM 4,5 Gang Tumaritis RT 2 RW 1 No 8 Banjarmasin Timur.
 
Dia mengaku tetap bersyukur dengan hidup seperti ini, walaupun menjalani kesenian ini tidak banyak yang bisa dia berikan untuk keluarganya. Yang terpenting keluarganya mau menerima kesederhanaan ini, dan tetap bahagia, lebih-lebih dia bisa senang hobbynya bisa tersalurkan terus.  
 
Bahkan, katanya, dia rela meluangkan sedikit waktunya demi seniman-seniman muda yang ingin meminta bimbingannya dibidang seni, baik itu tari, seni music panting, juga kesenian drama tradisi wayang gong atau kuda gepang. “Alhamdulillah, cukup banyak anak-anak sekolah juga kampus, yang mau kita bimbing,” ucapnya.
 
Berprofisi di jalan kesenian tradisional, jelas Wijaya, memang tidak mudah, harus sabar dan terus banyak iklas menjalaninya, karena sama-sama diketahui, tidak banyak rupiah yang bisa dihasilkan dari sini.
 
“Kita berjuang terus di jalur ini karena ini warisan yang sangat berharga bagi identitas banua kita, warisan nenek moyang yang wajib terus kita lestarikan,” tuturnya.
 
Menurutnya, sekarang ini kesenian tradisi banyak ditinggalkan, ini karena merambahnya seni-seni modern yang membuatnya terpinggirkan, akibatnya kurang banyak lagi digandrungi generasi muda apalagi mau mempelajarinya. “Jadi kalau kita melihat pemuda atau pemudi yang bersemangat mau menggeluti seni, kita merasa sangat senang sekali,” ujarnya.
 
Wijaya mengharapkan ada perhatian lebih pemerintah daerah terhadap kesenian tradisi ini, terutama seniman-seniman pinggiran seperti mereka tersebut. Sebab, katanya, kalau dibiarkan terus seperti ini, lambat laut kesenian banua akan banyak tinggal nama, sebab tidak ada lagi penggiatnya. “Yang kita kawatirkan, kesenian kita kalau tidak dihidupkan terus akan tinggal sejarah, sekarang ini banyak yang sudah mengarah kesana, makanya harus ada keperdulian semua pihak,” pungkasnya. (sukarli)
 
 
 

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: