Skip to content
Tags

,

Setia Belamut, Sehari-Hari Bewarung Kopi

August 12, 2012

Setia Belamut, Sehari-Hari Bewarung Kopi

Gusti Hanafiah memang tidak diragukan lagi kesetiannya terhadap kesenian banua. Keahliannya berkesenian Balamut, Bawayang, Damarwulan, dan Tarian tradisional daerah tetap dilestarikannya hingga sekarang ini. Tapi kehidupan sehari-hari memang jauh dari mapan, hanya seorang pemilik sebuah warung kopi.
Gambar
Pagi setelah sholat shubuh, kakek 62 tahun itu sudah bergegas mencari rizkinya, di sebuah warung sederhana yang disewanya di jalan Sungai Andai, di sanalah dia dan keluarganya menyandarkan rizki hingga petang menjemput. Ya, tentunya tidak banyak yang bisa dihasilkan dalam pekerjaannya itu, hanya jualan kue dan nasi.
Meski demikian, Menurut pria yang pernah mengaharumkan banua lewat kesenian daerah pada ajang PON Surabaya 1969 itu tetap tekun melakukan aktivitasnya itu setiap hari. Pergi pagi pulang sore, bahkan bisa malam baru istirahat dilaluinya dengan kebahagiaan.
Menurut Gusti Hanafiah, walaupun warung yang dimilikinya sederhana, tapi sangat membantunya bersama keluarga dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Selain job undangan untuk berkesenian yang mulai jarang dirinya dapatkan.
Yang penting, katanya, hidup yang dia jalani sekarang ini dapat menentramkan  jiwa dan keluarganya.  Walaupun lagi, dia masih tinggal di sebuah rumah kontrakan. “Saya tetap merasa sangat bersyukur dalam kondisi seperti ini, sebab saya masih bisa berbuat sesuatu untuk keluarga,” akunya saat ditemuai Media Kalimantan di rumah kontrakannya di Jalan Herlina Komplek Perdana Mandiri Blok C 3 Sungai Andai Banjarmasin Utara .
Dia mengaku hijrah dari rumahnya dulu yang beralamat di Kampung Malayu Laut baru sekitar 6 bulan jalan ini, dan kegiatannya tetap selain berkesenian, dia sehari-harinya mengahbiskan waktu bersama sang istri tercinta bewarungan kopi.  “Kalau tinggalnya di sini memang baru sekitar 6 bulan, tapi bawarungnya sudah satu setengah tahun,” aku seniman yang juga pernah tampil di Jakarta Fair 1971 silam itu.
Menurut Gusti Hanafiah,  dirinya tidak pernah meninggalkan berkesenian hingga saat ini, walaupun undang tampil tapi tidak sepadat dulu lagi.  “Sekarang  kalau ada orang menghajatkan kita Alhamdulilah,  kalau tidak ada, tak mengapa,  saya di warung aja bantu-batu istri,” ujarnya.
Dia mengakui cukup kalah beraktiviatas kesenian dengan seniman-seniman muda sekarang ini,  tapi bukan membuatnya sakit hati atau rendah diri, melainkan dia mengaku sangat senang dengan geliat generasi muda itu. Artinya ada pawaris selanjutnya terhadap mereka yang tua ini untuk melestarikan kesenian daerah.
“Terus terang saya sangat senang melihat seniman-seniman muda sekarang ini, sebab tidak banyak yang mau begelut di kesenian tradisional ini seperti mereka,  makanya  harus kita beri kesempatan dan semangat terus sebab mereka aset daerah yang melestarikan warisan budaya nenek moyang kita,” ucapnya.
Gusti Hanafiah yang merupakan teman sepermainan masa kecil  tokoh banua H Abdussamad Sulaiman HB itu mengaku tetap akan seperti ini, sebagai seorang seniman yang terus berupaya melestariakn kesenian hingga akhir hayatnya, walaupun dimasa tuanya masih menjalani aktivitas sebagai tulang punggung keluarga. “Berkesenian hingga akhir hayat saya, selain saya selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta,” tuturnya. (sukarli)
 
 

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: