Skip to content
Tags

,

Hanya Bermodal Seni, 5 Negara Pernah Dijejekinya

October 8, 2012
Hanya Bermodal Seni, 5 Negara Pernah Dijejekinya
 
Hermanto Misbah, hanyalah orang sederhana, ramai kalau ngobror denganya. Dia juga lucu, setiap hari dirinya disibukkan seni tradisi, dari panggung kepanggung dilaluinya. Bersama dua putranya, pria yang kini sudah berusia 54 tahun itu tak pernah bosan menghibur masyarakat dengan alunan panting dan lagu banjar.
Gambar
Terkadang hajatan warga yang ditunaikannya berakhir hingga tengah malam. Tapi pria yang memimpin Group Musik Panting Saraba Sanggam ini tidak pernah mengeluh, bahkan dia mengaku senang bisa terus diberi kesempatan berkesenian dan menghibur masyarakat.
“Ya, beginilah sudah jalan hidup saya, menghibur masyarakat dikesenian, tapi saya senang bisa melakukan ini,” ujarnya saat ditemui santai di rumahnya di jalan Belitung Darat Gang Samadi Ilham.
Dia mengatakan, tidak pernah merasa lelah sebagai pekerja seni, dan tidak ingin meninggalkannya walaupun dia sudah seusia ini. menurutnya, anugrah seni yang dimilikinya ini adalah warisan keluarga, bahkan berkat seni yang dikuasainya ini pernah membawanya keluar negeri.
“Alhamdulillah, selama berkesenian ini saya pernah keluar negeri beberapa kali, dan ini merupakan pengalaman hidup saya yang luar biasa,” ucapnya.
Pengalaman itu dimulai pada 1992 silam, di mana dia termasuk kontengen kesenian Kalsel yang manggung di Spayol. Dua tahun kemudiannya tepatnya tahun 1994, dia kembali mendapat kesempatan ikut kenegeri Pamansam ‘Amerika’, dan pengalaman di luar negeri lainnya dia pernah juga ke Jerman pada 2002, dan Malaysia juga Singapura pada 2010 tadi dalam rangka Festival Rampak Gendang.
Kalau cuma di Indonesia, katanya, tidak hanya dia para seniman banua lainnya pun hampir pernah manggung disetiap daerah di nusantara.
Dia mengatakan, dalam menggeluti seni tradisi memang tidak banyak materi yang didapat, namun hanya kesenangan dan kesadaran mempertahankan warisan nenek moyang yang menjadi sandaran bertahan.
“Saya tidsak mengharapkan kekayaan hidup dikesenian ini, tapi mempertahankan warisan nenek moyang kita,” akunya.
Dia menuturkan sangat konsen menggeluti kesenian tradisi musik panting banua ini, bahkan sebagai pengabdiannya terhadap seni daerah ini dia sudah bertahun-tahun lamanya bergabung sebagai pegawai di Taman Budaya Kalsel. “Insya Allah, hingga akhir hayat,” pungkasnya. (sukarli)

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: