Skip to content

Sabar, Sudah 11 Bulan Honornya Tak Dibayar

November 9, 2012

GambarKisah Hidup Penjaga Malam Museum Wasaka

MALAM menjelang, Abdul Samad mulai mempersiapkan diri turun menghadapi dinginnya angin malam. Sentar di tangannya tak pernah lepas menyorat kiri dan kanan juga belakang museum Wasaka. Maklum tugas pria 50 tahun ini harus memastikan museum dalam keadaan aman.

Kai Samad, begitu akrab panggilannya, sudah bekerja dengan status tenaga honerer Pemprov Kalsel sebagai penjaga malam museum Wasaka (Waja Sampai Ka Puting) di Jalan Kampung Kenanga Kelurahan Sungai Jingah Banjarmasin sejak 1989 silam. Dan selama itu pula, dia tetap bertugas dengan baik menjaga barang-barang berharga milik peninggalan para pejuang Kalsel.

Tapi bukan berarti, jerih payahnya itu dihargai dengan baik, sebab selama 11 bulan jalan ini atau sepanjang tahun 2012 ini, honornya belum juga dibayar, sama dengan 10 temannya yang lain yang juga bertugas di Meseum itu.

Menurut Kai Samad, dirinya tidak mengetahui juga mengapa pembayaran honor mereka macet begitu lama hingga hampir setahun ini. dan biasanya honor mereka dibayar Bagian Kesra Pemprov Kalsel. “Sudah 11 bulan jalan ini kami tidak menerima honor lagi,’ akunya kepada Media Kalimantan.

Dia mengatakan, pembayaran honor mereka bekerja di museum ini memang kerap tidak selancar gaji PNS, biasanya memang selalu tertunda dua sampai empat bulan. Namun untuk tahun ini mereka bingung tidak ada kejelasannya sama sekali. “Kami hanya diminta bersabar,” ucapnya.

Ya, harus bagaimana lagi, kata Kai Samad, walaupun risau bagaimana harus mencukupi kebutuhan rumah tangga tanpa digaji selama ini,  dirinya berusaha tetap bekerja dengan baik dan serius memastikan museum tetap aman setiap saatnya.

Kenapa demikian, ucapnya, karena dirinya merasa bertanggungjawab secara moral, lagian dirinya seakan sudah menyatu dengan museum ini, lantaran mungkin sudah begitu lama hampir 23 tahun mengabdi di museum ini. “Saya bekerja di sini, dari gaji cuma Rp 150 ribu perbulan, hingga Rp 500 ribu sekarang,” tuturnya.

Namun tenaga honorer lain, seperti tukang pembersih museum dan pemandu wisata di sini honornya hanya diberi Rp 200 ribu perbulannya.

Menurutnya, menjaga museum untuk memastikan semua barang bersejarahnya dalam keadaan selalu aman bukan hal yang mudah. Harus ekstra kekatat dan serius, sebab semuanya adalah barang yang sangat berharga.

“Taukan tenpatnya di sini, kalau malam itu terasa sangat angker, sunyi, terkadang saya harus berkali-kali menegur anak-anak muda yang mau perta minum-minuman, belum lagi yang corat-coret. Ini tugas yang menurut saya paling berat,” akunya.

Terkait hawa mistis di museum itu, Kai Samad mengakui terkadang memang ada merasakannya, bahkan pernah temannya sampai sakit akibat pengaruh gaib yang katanya penunggu daerah itu. “Tapi karena sudah biasa, ya.. jadi biasa-biasa saja lagi, kita berpadahai minta jangan diganggu anak cucu pian ni,” ucapnya.

Sebab, dia pernah mengalami juga pendengaran suara gaib di dalam rumah museum Wasaka itu, seperti langkah orang baris-berbaris, dan ternyata siangnya tidak ada sama sekali tanda-tanda nyata itu. “Ya, kalau diceritakan banyak lah, tapi kita berlindung dengan Allah SWT saja, mengharap selalu dalam lindungannya,” doa Kai Samad. (sukarli)

  

 

 

 

 

 

 

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: