Skip to content

Pasangan Setia di Seni, Ahli Dalam Pengobatan “Badewa”

December 7, 2012
Rumah berpagar dengan lukisan tokoh-tokoh wayang cukup menarik minat saya, rumah itu berada di jalan Arya Pujangga, Desa Barangas Timur, Kecamatan Alalak Kabupaten Batola. Sudah bisa ditebak, pastilah pemilik rumah ini seorang yang cinta seni budaya.  Dan benar adanya, rumah bernomor 44 RT 08 itu ditinggali dua pasangan penggiat seni budaya bernama H Matani dan istrinya Hj Madiyati.
Gambar
Kedua pasangan ini terlihat masih sehat, walaupun umur keduanya sudah melebihi setengah abat, H Matani (61) dan istrinya Hj Madiyati (52). Keduanya sangat setia dan kompak dalam melestarikan dan membina seni budaya banua, terlihat dengan masih eksisnya Sanggar Seni Sinar Pusaka “Salidah” yang mereka dirikan sejak puluhan tahun silam.
H Matani atau biasa dipanggilnya Abah Rudi (sesuai nama anak sulungnya) mengaku masih terus mendampingi anak-anak didiknya setiap kali pentas, bahkan terkadang dia yang sudah tua itu ikut turun kepanggung. “Kami sudah sangat menjiwai di seni budaya ini, begitulah hidup kami berdua,” aku pria yang langsung memberi nama jalan Arya Pujangga di daerahnya itu kepada MK.
Dikatakannya, istrinya juga terus terlibat pastinya dalam hal urusan menyiapkan segala kostum seni yang akan dikenakan anak-anak bimbingannya setiap kali mau pentas. “Jadi mamanya ini juga ikut terus,” ujarnya tertawa. Seakan tidak ada habisnya bicara dan cerita seni budaya dengan keduanya, mereka kompak mendukung peran masing-masing.
Menurut H Matani, dirinya memiliki anugrah kebisaan seni ini warisan dari pendahulunya, baik seni musik panting, tari kuda gepang, tari topeng, tari japin, dan kesenian wayang kulit, sehingga merasa terus bertanggungjawab melestarikannya. “Kita selalu siap kapan saja dihajatkan,” ucapnya.
Tapi anugrah yang lebih dimiliki kakek asli keturunan orang Bakumpai yang dilahirkan di Desa Kabuau, Marabahan ini, yakni, memiliki keahlian “Badewa”. Ini sebuah ritual budaya pedalaman dalam hal pengobatan dan mengusir roh-roh jahat.  “Kemarin kita ada melakukan ritual Badewa,” akunya.
Dalam menggelar ritual Badewa, ujarnya, dirinya sendiri yang turun langsung melakukannya. Dan ini sudah sangat lama dia geluti dan sudah sangat sering, yakni memenuhi hajat  pengobatan baik sakit gila alias dirasuki roh jahat (kena pulasit atau parangmaya orang). “Juga mengusir roh jahat yang mengganggu di rumah, bisa juga kita lakukan Badewa,” ujarnya.
Dikatakan H Matani, ritual Badewa ini pernah juga dilakukannya dalam sebuah pentas Nasional di Taman Mini Indonesia, Jakarta pada tahun 2000 silam. “Bahkan saat itu orang bule kita ikut obati,” ungkapnya.  
Namun, kata H Matani, dirinya sempat istirahat juga melayani orang yang menghajatkan untuk minta ‘Badewa”, ini lantaran dirinya sempat tidak memungkinkan karena sakit. “Hampir dua tahunan saya istirahat, karena dilarang dokter beraktifitas yang berat-berat, tapi sekarang sudah tak papa lagi,” akunya.
Secara umum, dia mengakui, menggiati seni budaya bukanlah hal yang mudah, perlu pengorbanan baik harta maupun tenaga. Sebab, sambungnya, mereka seniman pinggiran atau tidak dekat dengan kekuasaan ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah, terpaksa harus mandiri. “Terus terang, kita tidak bisa mengharapkan banyak dengan pemerintah, sabar dan usaha untuk bertahan bertahan ini,” pungkasnya seakan mengisyaratkan sudah kecewa dengan pemerintah daerah. (sukarli)

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: