Skip to content

Jembatan Barito “Ikon Kebanggaan Banua” (Bagian 1)

March 5, 2013

Dibangun Dari 700 Peluh Pekerja

Jembatan Barito di wilayah Kabupaten Barito Kuala (Batola) hingga kini merupakan ikon dan kebanggaan masyarakat banua. Sebuah maha karya yang luar biasa nan megah di tanah borneo ini. Dulunya mungkin hanya sebuah mimpi, tapi menjadi kenyataan tepatnya pada 24 April 1997 lalu, jembatan yang dibangun untuk menghubungkan trans Kalimantan, Provinsi Kalsel dan Kalteng ini diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Image

Lima tahun sebelum diresmikan, yakni, pada tahun 1993, sejak jembatan ini mau akan dibangun. Semua orang awam mungkin berpikir mustahil atau hanya menganggap sebuah mimpi bisa membentangkan jembatan di atas sungai yang begitu luasnya diperkirakan sekitar 8.000 meter dengan satu pulau kecil (pulau Bakut) di tengahnya.

Tapi mimpi itu mulai terlihat menjadi nyata setelah ada menunjukkan bukti dari tahun ketahun satu demi satu pondasi jembatan mulai kokoh berdiri. Puncak pengerjaan mega proyek terbesar di Indonesia pada masa itu pada 1996 dan 1997.

Menurut cerita mantan Asisten Pimpro bidang Oprasi Lapangan Pembangunan Jembatan Barito, Ir H Nurul Fajar Desira Ces, pengerjaan jembatan ini pada tahun  pertama, dua, dan tiga dilakukan secara bertahap, baru memasuki tahun keempat dan kelima, pengerjaan mulai full dilakukan.

Menurut Pria yang kini menjabat Kepala Bappeda Kota Banjarmasin itu, sebanyak 700 pekerja dilibatkan dalam pembangunan jembatan sepanjang 1.083 meter tersebut. “Bahkan kita dan para pekerja pada 4 bulan trakhir sebelum jembatan mau diresmikan, bekerja 24 jam tanpa henti,” ungkapnya.

Dikatakannya, dalam pengerjaan proyek yang begitu berat ini sangat disyukuri tidak meminta tumbal satupun nyawa pekerja. “Yang ada cuma kecelakaan kerja ringan kala itu, tidak ada sampai memakan korban jiwa, padahal tau saja kan kalau proyek besar biasanya,” ujarnya.

Dan menurutnya, semua pekerja yang terlibat dalam pembangunan  jembatan ini orang Indonesia, hanya ada satu orang konsultan perencanaan proyek dari Australia.

Sebab, katanya, dana pembangunan jembatan Barito ini tidak hanya bersumber dari APBN, melainkan juga ada bantuan dari pihak luar negeri, yakni, Australia. “Untuk konstruksi bagian atas jembatan seperti kabel baja dan rangka baja juga tawor itu bantuan Australia. Bagian konstruksi bawah seperti pembangunan pondasi dan oprasionalnya dana APBN,” terang Fajar.

Cuma dia hanya tahu total dana APBN yang dikeluarkan saja untuk proyek pembangunan jembatan Barito itu, yakni, sebesar Rp 150 miliar. “Ini waktu zaman negara kita belum mengalami krisis lo,” timpalnya.

Dipaparkannya, jembatan Barito merupakan jembatan gantung, setinggi 15 meter dari permukaan air. Ada empat tiang tower setinggi 33 meter sebagai penyangga kabel bajanya, dan rangka baja bawah, kedalam pondasi tiang tower masing-masing sekitar 60 meter kedalam perut bumi. Masing-masing antara tiang berjarak 240 meter.

“Jembatan ini dirancang tahan badai, bahkan masih aman jika sampai berayun hingga satu meter kesamping,” tuturnya. 

Dia mengungkapkan, kalau kabel baja jembatan Barito itu dipesan dari Kanada, sedangkan rangka bajanya dari Australi, untuk bagian kontruksi tower dan konstruksi beton dan sebagainya dibuat langsung di negara kita. “Jembatan ini dijamin kekuatannya 100 tahun,” pungkasnya. Bersambung (sukarli)

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: