Skip to content

Bang Sam’un, Seniman HSU Yang Tulus

April 26, 2013

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Senyum simpul sudah memampang dibir tua Bang Sam’un di pagi hari, menatap terik matahari yang baru timbul dari upuk Timur, dia mulai mengemasi barang bawaannya untuk memenuhi suatu undangan. Sebuah gendang dan baju seni lengkap dengan talakungnya menyesaki tas sederhananya, Sam’un adalah seniman Madihin Hulu Sungai Utara (HSU), kini usianya memasuki 66 tahun.

Image

Diusia yang terbilang sudah senja itu, Bang Sam’un panggilan akrabnya, tetap setia dijalur seni tradisi, selalu bersedia meluluskan hajat yang membutuhkan jasannya. Di mana pun kirannya selama langkahnya tidak diuzurkan Allah SWT. Misalnya lagi sakit atau sebagainnya.

Di pagi itu, Bang Sam’un mendapat undangan live di RRI Kalsel untuk mengikuti siaran budaya, dia ditemani seniman Madihin Banjarmasin Amang Iyan. Setelah sekitar satu jam siaran, Media Kalimantan berkesempatan berbincang dengan Bang Sam’un, Pria yang kini tinggal di Banjang, Amuntai, HSU itu banyak bercerita, termasuk bagaimana dia bertahan melakoni seni ini hingga sekarang.

Sedikit mengimformasikan diri, Bang Sam’un mengaku berada di Banjarmasin sudah sekitar dua hari sejak Selasa malam (23/4), atas undangan Taman Budaya Kalsel, keahliannya memperbaiki alat kesenian dibutuhkan, yakni, memperbaiki alat-alat kesenian yang lagi rusak dimiliki Taman Budaya, seperti gendang dan semacamnya.

“Sudah selesai tugas saya di Taman Budaya, dan saya diundang RRI untuk mampir sebentar berbagi cerita dan pengalaman di bidang seni dan budaya Madihin di Hulu Sungai,” ujarnya.

Menurut Bang Sam’un, dirinya tetap setia menggeluti kesenian tradisi di pahuluan atau Hulu Sungai utamanya di daerahnya kini tinggal di daerah Amuntai sudah puluhan tahun hingga kini. “Sedari kecil saya sudah hidup di seni,” akunya.

Dia mengaku memiliki aliran darah seni sejak dari kakek neneknya, yang kemudian menurun ke bapak dan ibunya, hingga kedirinya kini. “Jadi saya merasa bertanggungjawab untuk selalu melestarikannya hingga anak cucu saya nantinya,” papar Bang Sam’un.

Dituturkannya, bahwa kesenian Madihin khususnya di daerah pahuluan, masih cukup digemari warga, utamannya disaat untuk memeriahkan hajatan pengantenan atau pemilihan kepala desa. “Lebih sepuluh kalian sebulan kalau lagi ramai-ramainya kita dapat undangan,” akunya.

Hanya saja, ungkapnya, karena skupnya di kalangan perkampungan, tentunya bayaran yang didapatnya tidaklah besar, sekedarnya saja. “Saya tidak pernah mematok tarif, setiap kali diundangan, selama saya bisa atau istilahnya tidak lagi sakit atau aral lainnya, mau dibayar berapa saja seikhlasnya, saya pastinya datang memenuhi hajat,” tegasnya.

Sebab, kata Bang Sam’un, dirinya meresa senang meluluskan hajat masyarakat itu lantaran dirasakannya masyarakat masih menghargai seni budaya yang merupakan warisan nenek moyang kita semua.

Lain halnya pemerintah daerah, paparnya, dirasakannya kini mulai luntur perhatiannya kepada para seniman, utamanya di daerah pahuluan. Sebab, hingga puluhan tahun dirinya sudah menjalani kesenian, hampir tidak ada tersentuh perhatian dari pemerintah HSU. “Kita pernah minta bantuan, tidak besar, hanya dibantu beli gendang dan baju seni saja, berapa kali kita masukkan proposal tidak pernah lulus,” akunya tersenyum.

Sehingga dia berpendapat, mengeksiskan dan melestarikan kesenian daerah tidak bisa bergantung dengan pemerintah daerah, sebab kalau demikian, pastinya akan lamban bergerak yang akhirnya mati atau stagnan. “Kita seniman berharap, moga masih banyak yang mencintai dan menghargai seni budaya tradisi banua, agar selalu lestari, karena ini merupakan identitas daerah,” pungkasnya. (sukarli)

                                                            

 

 

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: